Kebutuhan manusia akan informasi membuat para ilmuan untuk membuat suatu sistem yang dapat memenuhi akan kebutuhan tersebut. Salah satu sistem teknologi yang super canggih dan sudah dapat dirasakan oleh kita saat ini adalah sistem navigasi satelit. Dengan adanya teknologi sistem navigasi satelit ini kita lalu bisa mengetahui posisi kita hanya dengan bantuan alat yang dapat menerima sinyal navigasi satelit tersebut. Sistem navigasi canggih yang populer digunakan saat ini adalah GPS (Global Position System). Namun sistem ini tidak semerta-merta lepas dari beberapa kelemahan.

Permasalahan penentuan posisi dalam setiap survei ‘in situ’ yang dilakukan oleh beberapa surveyor maupun peneliti di Indonesia saat ini salah satunya masalah ketelitian GPS. Untuk meningkatkan ketelitian posisi gps navigasi, salah satu  metode yang digunakan adalah DGPS (Differensial GPS).  DGPS adalah metode untuk meningkatkan akurasi dari receiver GPS dengan menambahkan referensi stasiun lokal untuk menambah informasi yang diterima dari satelit. Maka dari itu diperlukan pelatihan peningkatan nilai akurasi GPS untuk keperluan survei lapang yang dilakukan oleh peneliti muda

Pelatihan peningkatan ketelitian GPS yang dilakukan di SEAMEO-BIOTROP, Tajur, Bogor pada tanggal 14 April 2015 lalu telah memberikan banyak pengalaman dan hardskill  terutama dalam bidang penentuan posisi survei bagi mahasiswa ITK IPB. Pelatihan kemampuan dasar penggunaan GPS Base Station untuk meningkatkan ketelitian GPS ini diberikan langsung oleh Bapak Nursugi dari Badan Informasi Geospasial (BIG). Pelatihan dititik beratkan pada kegiatan saat di lapangan, misalnya penggunaan GPS yang dijadikan Base Station untuk akurasi posisi.

Pelatihan yang dihadiri oleh Romie dan Nurkholis (S3 TEK) Ari Anggoro (S2-2012), Fahriansyah, Tarlan Subarno, Ike Dori Chandra, Nunung Noer Azizah (S2 TEK-2013) serta Nico Wantona Prabowo, Andry Tiraska, Ananda S. Padillah (S1 ITK) ini dilakukan dalam beberapa tahapan, diantaranya penyampaian materi singkat, uji coba di lapangan, dan proses input data surveiKegiatan ini dihadiri pula oleh Bapak Dr. Vincentius P. Siregar, DEA (Kepala Bagian Lab. Penginderaan Jauh dan SIG Kelautan Dept. ITK), Bapak Petrus (Staf Ahli BIOTROP), Bapak Dr. Syamsul B. Agus, M.Si (Staf pengajar Bagian ISK ITK).

GPS yang digunakan diantaranya jenis Epoch (mode Base Station) dan Trimble (mode Rover). Menurut Bapak Nursugi, “Ketelitian GPS dengan menambahkan receiver lokal ini sangat tinggi bahkan dapat mencapai 1 meter. Tentunya hal ini sangat diperlukan untuk kebutuhan navigasi, survei pemetaan dan keperluan survei lapang lainnya”, ungkapnya. (Nico Wantona)