Beranda / Berita SDGs / Artikel

IPB University Perkuat Ekowisata Pulau Tidung, Lindungi Terumbu Karang dengan Mooring Buoy

29 Oktober 2026  |  Berita, Pengabdian Masyarakat, Penelitian

Ramainya wisata bahari Pulau Tidung menyimpan tantangan bagi kelestarian terumbu karang. IPB University menyiapkan solusi untuk menjaga laut tetap lestari.

Aktivitas wisata bahari di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, menyimpan tantangan bagi kelestarian ekosistem laut.

Penggunaan jangkar kapal yang tidak tepat, sampah, serta perilaku wisatawan yang menyentuh atau menginjak karang berpotensi mengganggu lingkungan bawah laut.

Untuk mengantisipasi persoalan tersebut, IPB University mendorong penerapan wisata berkelanjutan melalui pelatihan masyarakat dan penggunaan mooring buoy atau pelampung tambat kapal.

Program ini dijalankan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat Dosen Pulang Kampung Tahun 2026.

Kegiatannya bertajuk “Penguatan Ekowisata Bahari Pulau Tidung melalui Pelatihan Wisata Berkelanjutan dan Instalasi Mooring Buoy untuk Perlindungan Terumbu Karang”.

Pelatihan dijadwalkan berlangsung pada 13 Oktober 2026 di Aula Kantor Kelurahan Pulau Tidung Ceria.

Kelompok Masyarakat Pengawas (POKMASWAS) Kelurahan Pulau Tidung menjadi mitra utama dengan melibatkan masyarakat setempat dan pelaku wisata bahari.

Melalui program tersebut, IPB University memperkenalkan mooring buoy sebagai alternatif titik tambat kapal.

Fasilitas ini menggunakan pemberat yang ditempatkan di dasar laut, kemudian dihubungkan dengan tali dan pelampung di permukaan.

Kapal dapat ditambatkan pada titik yang disediakan tanpa perlu menjatuhkan jangkar konvensional di sekitar terumbu karang.

Penggunaan sistem tersebut diharapkan mengurangi risiko kerusakan fisik akibat kontak jangkar dan rantai dengan ekosistem bawah laut.

Meski demikian, manfaatnya bergantung pada penentuan lokasi, kondisi perairan, prosedur penggunaan, dan pemeliharaan fasilitas.

Karena itu, penyediaan teknologi tersebut disertai rencana peningkatan pengetahuan masyarakat.

Materi pelatihan meliputi prinsip ekowisata bahari, etika snorkeling dan menyelam, pengelolaan sampah, pengenalan terumbu karang, serta prosedur operasional standar wisata yang bertanggung jawab.

POKMASWAS juga dilibatkan dalam pengawasan, penggunaan, dan pemeliharaan fasilitas tambat kapal.

Peran masyarakat dinilai penting agar upaya perlindungan lingkungan tidak berhenti pada penyediaan sarana, tetapi berlanjut dalam praktik pengelolaan sehari-hari.

Program ini turut merencanakan penyediaan poster edukasi berbahasa Indonesia dan Inggris.

Materinya mencakup larangan menyentuh atau menginjak karang, pengelolaan sampah, pentingnya ekosistem laut, serta tata cara menggunakan mooring buoy.

Poster tersebut direncanakan ditempatkan di sejumlah lokasi strategis yang berkaitan dengan kegiatan wisata.

Tim pelaksana berasal dari Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, FPIK IPB University, di bawah pimpinan Dr. Beginer Subhan, S.Pi., M.Si.

Mahasiswa turut mendukung pengumpulan data lapangan, penyusunan materi, dokumentasi, dan koordinasi kegiatan.

Inisiatif ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama tujuan ke-14 tentang ekosistem laut dan tujuan ke-8 mengenai pekerjaan layak serta pertumbuhan ekonomi.

Pada akhirnya, pengembangan wisata bahari membutuhkan keseimbangan antara manfaat ekonomi dan kelestarian alam.

Sebab, terumbu karang bukan hanya bagian dari keanekaragaman hayati laut, tetapi juga menjadi daya tarik yang menopang kegiatan pariwisata Pulau Tidung.

Sehingga dampak program ini perlu ditinjau melalui realisasi pemasangan mooring buoy, lokasi fasilitas, jumlah peserta pelatihan, serta keberlanjutan pemeliharaan dan pengawasan.

Data tersebut diperlukan untuk mengukur sejauh mana kegiatan pengabdian mampu mendukung perlindungan terumbu karang dan pengelolaan wisata yang bertanggung jawab.

Mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)

Scroll to Top